SATU ATAP DALAM MAHKAMAH AGUNG RI (Sebuah Keharusan Sejarah dan Keharusan Hukum)

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Cambria; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Rockwell; panose-1:2 6 6 3 2 2 5 2 4 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:”022″; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} h3 {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:9; mso-style-qformat:yes; mso-style-link:”Heading 3 Char”; mso-style-next:Normal; margin-top:10.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:0cm; margin-bottom:.0001pt; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan lines-together; page-break-after:avoid; mso-outline-level:3; font-size:11.0pt; font-family:”Cambria”,”serif”; mso-ascii-font-family:Cambria; mso-ascii-theme-font:major-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:major-fareast; mso-hansi-font-family:Cambria; mso-hansi-theme-font:major-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:major-bidi; color:#4F81BD; mso-themecolor:accent1;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-link:”Body Text Char”; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-link:”Body Text 2 Char”; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.Heading3Char {mso-style-name:”Heading 3 Char”; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:9; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Heading 3″; font-family:”Cambria”,”serif”; mso-ascii-font-family:Cambria; mso-ascii-theme-font:major-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-theme-font:major-fareast; mso-hansi-font-family:Cambria; mso-hansi-theme-font:major-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:major-bidi; color:#4F81BD; mso-themecolor:accent1; font-weight:bold;} span.BodyTextChar {mso-style-name:”Body Text Char”; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Body Text”; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} span.BodyText2Char {mso-style-name:”Body Text 2 Char”; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Body Text 2″; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Prolog
Masyarakat Indonesia (khususnya kaum Muslimin) di tanggal 29 Desember 1989 benar mengucapkan syukur yang sesyukur-syukurnya — bagaimana tidak setelah berjuang dan bersabar menapaki perjalanan sejarah selama kurang lebih satu abad lebihuntuk sebuah pengharapan eksisnya lembaga peradilan bagi masyarakat Islam (Baca : Peradilan Agama) yang independen dan mantap, dimana DPR RI pada tanggal 14 Desember 1989 mensetujui Rancangan Undang-Undang tentang Peradilan Agama dan kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 pada tanggal 29 Desember 1989.

Sadar akan pentingnya eksistensi Peradilan Agama di Indonesia (PADI) — maka lahirnya undang-undang tersebut merupakan monumen sejarah, peristiwa hukum sekaligus merupakan peristiwa politik yang erat kaitanya dengan keyakinan umat Islam di Indonesia, tidak sampai disitu saja; menurut H. Bustanul Arifin bahwa proses pengaktulisasian Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 merupakan upaya keras untuk membangun hukum (khususnya peradilan) sekaligus upaya keras mengikis habis implikasi politik hukum kolonial. Sehingga sangatlah diwajarkan suara-suara, kecaman-kecaman dan pendapat-pendapat yang “anti” UUPA kita anggap sebagai bukti nyata bagaimana parahnya akibat dari rekayasa ilmu hukum kolonialisme dulu. Bahkan Mohammad Daud Ali mengungkapkan bahwa pengesahan Undang-Undang Peradilan Agama itu merupakan peristiwa penting yang bukan hanya bagi pembangunan perangkat hukum nasional, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia.

Namun seiring dengan perjalanan waktu dan perkembagan kehidupan masyarakat Indonesia, meski telah semakin mapan, mantap dan jelas fungsi serta kewenangan Peradilan Agama sebagai salah satu badan peradilan pelaksana kekuasaan kehakiman ternyata menurut beberapa kalangan masih memiliki kekurangan dan kelemahan — praktisi hukum, pengamat hukum, para ilmuan/sarjana hukum dan tidak menutup kemungkinan masyarakat pencari keadilan — merasakan adanya kekurangan dan kelemahan Undang-Undang tersebut. Tunjuk saja hasil analisis M. Yahya Harahap yang memperlihatkan bahwa di samping Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagai hal yang memantapkan dan menjelaskan fungsi serta kewenangan Peradilan Agama, ternyata masih banyak juga ketentuan-ketentuan yang kabur, mengambang bahkan bersifat konflik yang sarat bersentuhan dengan lingkungan peradilan lain dan Hukum Adat.

Jika bertitik tolak dari berbagai rumusan pasal, ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan kebutuhan hukum karena rumusannya mengandung klausula yang kabur dan mendua, sehingga sulit untuk diterapkan tanpa keberanian melakukan terobosan melalui pendekatan realisma yang sesuai dan konsisten dengan dinamika kebutuhan hukum dan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan pada satu pihak dan kebutuhan kepastian penegak hukum pada pihak yang lain. Sehingga adanya ke-absurd-an dan atau adanya dualisme klausula yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang menurut hemat penulis dapat melahirkan ketidak-konsistenan dan dapat mengganggu independensi Peradilan Agama sebagai judical power.

Pada sisi lain di akhir abad 20, awal abad 21 ini — Reformasi sebagai lokomotif perubahan kehidupan dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dengan mengusung semangat supremasi hukum, HAM dan independensi dalam segala aspek kehidupan di dalamnya, terlebih lagi supremasi hukum merupakan spirit dari ajegnya era Reformasi dan runtuhnya era Orde Baru telah pula menghembus keras ke dunia peradilan terlebih lagi “Reformasi Hukum” merupakan salah satu amanat penting dalam rangka pelaksanaan agenda reformasi nasional yang didalamnya tercakup agenda penataan kembali berbagai institusi hukum dan politik mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat pemerintahan desa, pembaruan berbagai perangkat peraturan perundang-undangan mulai dari UUD sampai ke tingkat Peraturan Desa, dan pembaruan dalam sikap, cara berpikir dan berbagai aspek perilaku masyarakat hukum kita ke arah kondisi yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Dengan perkataan lain, dalam agenda reformasi hukum itu tercakup pengertian reformasi kelembagaan (institutional reform), reformasi perundang-undangan (instrumental reform), dan reformasi budaya hukum (cultural reform).

Sehingga munculnya keinginan dan gagasan “Satu Atap” lembaga Peradilan Agama dalam Mahkamah Agung RI di era Reformasi ini sebuah kewajaran yang terus bergelinding bagai bola salju yang kian membesar dan menguat — meski dalam proses perjalanan menuai badai dukungan dan penjegalan, pro-kontra terus menerpa keinginan dan gagasan tersebut. Sebenarnya bibit-bibit keinginan dan gagasan tersebut ditahun sekitar kelahiran Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 telah ada, namun gelombang dan penampakannya masih kecil dan cenderung tak terlihat karena tertahan oleh rasa dan perasaan serta keharusan mensyukuri akan kemapanan kedudukan Peradilan Agama di Indonesia atau dengan kata lain keinginan tersebut tertahan oleh “konsensus” dan “toleransi” serta kelapangan dada semua pihak. Hal tersebut dapat penulis lihat dalam beberapa tulisan-tulisan pakar hukum, praktisi hukum dan peneliti hukum di sekitar tahun 1990-an.

Tunjuk saja salah satu tulisan M. Yahya Harahap yang monumental dan merupakan salah satu rujukan/referens baik bagi kalangan akademisi maupun praktisi hukum dalam bukunya “Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama; Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989” — meski secara global buku tersebut menjelaskan tentang kedudukan kewenangan dan acara peradilan agama serta pentingnya momen diundangkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989, namun ada beberapa dari lembaran buku tersebut secara tersirat mengutarakan ketidak sepahaman dan ketidak sejalanan bahkan adanya kritikan yang tajam sekali atas beberapa pasal didalamnya. Misal masih adanya unsur optie hukum dalam hal kewarisan, masalah dualisme pembinaan lembaga peradilan agama yang dikaitkan dengan penegasan asas kebebasan hakim/peradilan dan lain sebagainya, yang kesemuanya menurut hemat penulis dapat dan sangat mengganggu terhadap independensi judical power Peradilan Agama — karena membicarakan Peradilan Agama pada hakekatnya membicarakan kekuasaan kehakiman dan ketika membicarakan kekuasaan kehakiman menurut UUD 45 adalah kekuasaan yang bebas dari pengaruh eksekutif dan pengaruh-pengaruh extra-judicial lainnya.

Ternyata semangat reformasi menjadi konduktor sekaligus katalisator yang baik sekali untuk mencuatkan kembali sekaligus menghantarkan keinginan dan gagasan pembentukan lembaga Peradilan Agama yang ideal dan memiliki independensi yang tinggi dalam satu atap di Mahkamah Agung RI — Bermula dengan adanya pembahasan dan revisi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman untuk beberapa pasal saja mau tidak mau karena derasnya arus Reformasi, pembahasan dan revisi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tersebut meluas kebeberapa pasal didalamnya dan menghantarkan pula pada perundang-undangan serta ketentuan peraturan organik dibawahnya turut mensesuaikannya.

Eksistensi Peradilan Agama Dalam History Journing
Perjalanan sejarah peradilan agama secara umum tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan sejarah bangsa dan masyarakat Indonesia (khususnya umat Islam) karena sepanjang sejarahnya, eksistensi Peradilan Agama di Indonesia telah mengalami pasang surut seiring dengan pasang surutnya perjuangan kemerdekaan nasional pada zaman penjajahan Barat dulu dimana Peradilan Agama adalah salah satu sasaran dari politik devide et impera rezim kolonial dahulu.

Sebelum tahun 1882 Peradilan Agama benar-benar merupakan peradilan dalam arti sebenarnya yang berdasarkan temuan sejarah atas peraturan-peraturan tertulis menunjukkan adanya suatu peradilan agama dalam pelbagai bentuk dan tingkat di seluruh Nusantara, walaupun aturan-aturan tersebut bukan menciptakan tetapi memberikan petunjuk pada pejabat-pejabat waktu itu (Bupati) agar tidak “mengganggu” peradilan agama yang ada. Namun di tahun 1882 melalui Stbl. 1882 : 152, mulailah kewenangan dan kekuasan Peradilan Agama sedikit demi sedikit dikurangi dan akhirnya dengan Stbl. 1931 yang untuk sebagian berlaku mulai tahun 1937 tepatnya pada bulan April 1937 dikurangi lagi kekuasaan dan kewenangannya, sehingga praktis Peradilan Agama saat itu merupakan pengadilan quasi yang hanya berwenang menangani NTR saja — Bustanul Arifin membahasakan kenyataan tersebut sebagai pukulan “KO” bagi Peradilan Agama yang pada hakekat pengadilan agama saat itu hanya berupa badan administrasi mengenai Nikah, Talak dan Rujuk yang tidak memiliki kekuasaan untuk melaksanakan keputusan sendiri, di mana dengan peraturan-peraturan itu rezim kolonial berhasil menciptakan “image” tentang Pengadilan Agama sebagai pengadilan inferior, pengadilan yang tidak sesuai dengan zaman modern, pengadilan yang “asing” bagi ahli-ahli hukum “modern”.

Perspektif sejarah tentang pasang surut eksistensi Peradilan Agama di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor politik kolonial saja (sebagaimana fakta sejarah di atas), namun faktor adanya konflik antara tiga sistem hukum yang berlaku di Indonesia (Hukum Islam, Hukum Sipil/Barat, dan Hukum Adat) yang kemudian diperuncing oleh konsep-konsep/teori-teori hukum yang dicetuskan para ahli hukum kolonial pun memiliki andil atas pasang surutnya eksistensi Peradilan Agama. Sebut saja teori Receptio in complexu (Prof. Mr. Lodewijk Willwm Christian Van Den Berg), teori Reseptie (Prof. Christian Snouck Hurgronje dan C. Van vallenhoven), teori Receptie Exit (Prof. Dr. Hazairin, SH.) dan teori Receptie a Contrario.

Perjalanan sejarah Peradilan Agama yang begitu panjang dan berliku jika difasekan menurut Cik Hasan Bisri adalah sebagai berikut :

Peradilan Agama Masa Penjajahan :

Masa Penjajahan Belanda

Masa Penjajahan Jepang

Peradilan Agama Masa Kemerdekaan :

Masa Awal Kemerdekaan

Masa Orde Baru, yang memiliki dua momentum penting :

Momentum Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama

Momentum Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam

Namun dari sekian kurun waktu perjalanan sejarah tersebut, sebenarnya ada empat aspek pokok yang merupakan titik permasalahan sekaligus indikator perkembangan/ perubahan Peradilan Islam di Indonesia (Baca : Peradilan Agama), yaitu :

Berkenaan dengan kedudukan peradilan dalam tatanan hukum dan peradilan nasional.

Berkenaan dengan susunan badan peradilan, yang mencakup hierarki dan struktur organisasi termasuk komponen SDM di dalamnya. (Secara makro adalah struktur, pengawasan dan pembinaan badan peradilan dalam tatanan peradilan nasional).

Berkenaan dengan kekuasaan pengadilan — baik kekuasaan absolut maupun kekuasaan relatif.

Berkenaan dengan hukum acara yang dijadikan landasan dalam merealisasikan tugas kewenangan peradilan agama sebagai lembaga pelaksana kekuasaan kehakiman.

Eksistensi Peradilan Agama Dalam Tata Hukum Nasional

Hukum Islam yang sejak dulu dipahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesadaran masyarakat Indonesia mengenai hukum dan keadilan yang memang jelas keberadaan atau eksistensinya dalam kerangka sistem hukum nasional. Secara instrumental, banyak ketentuan perundang-undangan Indonesia yang telah mengadopsi berbagai materi Hukum Islam ke dalam pengertian Hukum Nasional. Secara institusional, eksistensi Pengadilan Agama sebagai “warisan” penerapan sistem Hukum Islam sejak zaman pra penjajahan Belanda, juga terus dimantapkan keberadaannya.

Menilik pada sistem kekuasaan ketatanegaraan yang dianut NKRI, yaitu Sistem Trias Politika dimana menurut Charles Secondat Baron de Labrede et de Montesquieu (Baca : Montesquieu) sistem pemerintahan/kekuasaan negara terbagi ke dalam tiga kekuasaan besar : Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif — yang sudah barang kekuasaan tersebut harus terpisah (independen) — baik mengenai fungsi maupun mengenai alat perlengkapan (organ) yang melaksanakan dalam Ilmu Ketatanegaraan ajaran tersebut dikenal dengan the separation of power. Kemudian dalam UUD 1945 secara rinci diatur alokasi kekuasaan negara menjadi enam konsentrasi besar.

1. Kekuasaan menetapkan Undang-Undang Dasar dan Garis-Garis Besar Haluan Negara; diselenggarakan oleh MPR.

2. Kekuasaan Pemerintahan Negara; diselenggarakan oleh Presiden.

3. Kekuasaan Pertimbangan; dilaksanakan oleh Dewan Pertimbangan Agung.

4.Kekuasaan Perundang-undangan; dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

5.Kekuasaan Pemeriksaan Keuangan; dilakukan oleh Badan pemeriksa Keuangan.

6. Kekuasaan Kehakiman/Yudikatif; dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Maka peradilan agama sebagai sistem peradilan yang diakui sebagai sistem peradilan nasional di Indonesia berada pada sistem kekuasaan pemerintahan di sektor kekuasaan yudikatif/kehakiman yang eksistensinya jika dilihat sebagaimana ketentuan Pasal 2 Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan, maka landasan hukum yang mengatur tentang eksistensi peradilan agama secara hierarki sebagai berikut :

UUD 1945 Pasal 24 dan 25 tentang Kekuasaan kehakiman —

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman Pasal

Keberadaan sistem Hukum Islam di Indonesia sejak lama telah dikukuhkan dengan berdirinya sistem peradilan agama yang diakui dalam sistem peradilan nasional di Indonesia. Bahkan dengan diundangkannya UU tentang Peradilan Agama tahun 1998, kedudukan Pengadilan Agama Islam itu makin kokoh. Akan tetapi, sejak era reformasi, dengan ditetapkannya Ketetapan MPR tentang Pokok-Pokok Reformasi yang mengamanatkan bahwa keseluruhan sistem pembinaan peradilan diorganisasikan dalam satu atap di bawah Mahkamah Agung.

Epilog
Sistem peradilan satu atap dibawah Mahkamah Agung (MA) yang efektifnya akan dimulai 1 April 2004. Hasil revisi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang telah ditetapkan DPR belum lama ini menyebutkan sistem peradilan satu atap dibawah MA selambatnya harus sudah dilaksanakan akhir Maret 2004. Dengan terbentuknya sistem peradilan satu atap dibawah Mahkamah Agung menurut Bagir Manan maka struktur peradilan dibawah Departemen Kehakiman dan HAM serta Departemen Agama akan berpindah ke struktur Mahkamah Agung Republik Indonesia. Namun dengan belum selesainya penyusunan struktur organisasinya, maka struktur peradilan dibawah Departemen Kehakiman dan Departemen Agama belum akan segera dipindahkan ke lingkungan MA. Undang-Undang tentang Mahkamah Agung memberi waktu kepada MA untuk menyiapkan struktur organisasi peradilan satu atap tersebut selama satu tahun.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka upaya dan langkah “pensatu-atapan” lembaga Peradilan Agama ke dalam Mahkamah Agung RI — terlepas ide dan gagasan kearah “satu atap” itu terinisiatif dari dalam orang-orang Peradilan Agama sendiri atau sebuah reaksi dari kenyataan sejarah dan hukum, sebagaimana telah dipaparkan diatas dan Abdul Gani Abdullah ungkap bahwa Peradilan Agama “satu atap” dalam Mahkamah Agung RI sebenarnya telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999, meski masalah penetapan waktunya tidak ditentukan hal tersebut secara analisis teoritis karena persoalan Peradilan Agama menjadi “satu atap” dengan Mahkamah Agung RI bukan masalah berat bagi Departemen Agama RI — tetapi lebih dari karena eksistensi perjalanan sejarah Peradilan Agama itu sendiri yang sejak dulu hingga kini eksistensinya tidak dapat dipisahkan dengan perjuangan “umat Islam” dan ulama dimana kecenderungan “masyarakat/umat Islam” dan ulama/kiai (MUI) cenderung kurang menyetujui keinginan dan gagasan tersebut. Maka kehati-hatian untuk mencapai arah “pensatu-atapan” lembaga Peradilan Agama dalam Mahkamah Agung RI secara total harus ekstra diperhatikan — Jangan sampai tepatnya moment, adanya kesempatan dan besarnya dukungan terutama dari orang-orang legislatif (Baca : DPR) yang nampaknya begitu bersemangat untuk mendukung Peradilan Agama menyatu secara administratif dan teknis yuridis ke Mahkamah Agung menjadi sebuah “eforia” — sehingga dalam merealisasikan dan mengakhtuaisasikan harapan tersebut tidak memperhatikan hal-hal kecil namun memiliki sensitifitas yang tinggi dan dapat menimbulkan konflik kedepan

Universalisme Hukum Dan Syariat Islam Di Indonesia

Pendahuluan

Masih segar diingatan kita tentang pro dan kontra berlakunya Syariat Islam di NAD, yang kemudian mulai merambat ke berbagai daerah. Hal semacam ini justeru muncul ditengah terjadinya konflik-konflik agama yang berkepanjangan serta bertumbuhnya kaum-kaum fundamentalis agama yang mulai meresahkan.

Dengan diterapkannya Syariat Islam di NAD, keâ?ouniversalâ?an hukum positif di Indonesia menjadi tanda tanya. Hal seperti ini merupakan hal yang baru, dimana ada sebuah daerah dalam suatu negara menerapkan sistem hukum yang berbeda dengan hukum nasionalnya. Penerapan tersebut terkesan seperti dipaksakan, disaat bangsa ini sedang membangun dan menata ulang sistem hukum nasionalnya, ada daerah yang justeru membuat sumber hukum baru yang sama sekali berbeda dengan sistem hukum induknya. Konsekwensinya adalah keinginan untuk menentukan suatu kawasan wilayah Islam dengan formalisasi syariat sebagai hukum positif adalah sebuah kontradiksi. Bagi kalangan umat Islam sendiri terdapat pro dan kontra dengan penerapan Syariat Islam di NAD. Bagaimana dengan nasib kaum sekuler Islam maupun non muslim di NAD? bagaimana pula nasib kemajemukan bangsa yang selama ini coba dipertahankan?.

Universalisme hukum bermakna bahwa seluruh peraturan dan perundang-undangan berlaku bagi seluruh warga negara tanpa memandang ras, suku, golongan, dan agama tertentu. Dan sebagai hukum positif bermakna peraturan dan perundangan tersebut berlaku pada waktu dan tempat yang sama. Dengan berlakunya Syariat Islam, secara langsung mencederai ke�universal�an tersebut.

Agama masih merupakan hal yang problematis di negara ini, dengan melihat potensi agama untuk mengangkat harkat manusia belum efektif dalam menentukan struktur-struktur hukum, sosial dan moral masyarakat, maka penerapan hukum yang bersumber dari agama tertentu di negara yang plural bukanlah suatu keputusan yang populer.

Kekuatan Syariat Islam sebagai hukum moral keagamaan bagi umat Islam sejauh ini dapat dikatakan berjalan dengan baik, tapi bagaimana kalau Syariat Islam tidak hanya sekadar hukum moral keagamaan tetapi menjadikannya sebagai hukum positif yang dibungkus dalam peraturan-peraturan daerah. Apalagi, isi dari peraturan daerah yang bernuansa syariat tersebut lebih menitik beratkan kepada persoalan-persoalan formalistik. Sejauh yang saya tahu Islam tidak hanya bicara soal jilbab, tidak hanya mengurus baca Al-Qur’an, atau hal-hal formal lainnya, Islam jauh lebih besar daripada hal-hal itu, Islam adalah agama yang berkarakteristikkan universal, dengan pandangan hidup mengenai persamaan, keadilan, kebebasan dan kehormatan serta memiliki konsep teosentrisme yang humanistik sebagai nilai inti dari seluruh ajaran Islam. Tetapi kebesarannya ditampikkan oleh perilaku politik pragmatis sebagian orang yang merasa kemenangan hanya dapat diukur oleh pemberlakuan Syariat Islam. Padahal sejak Piagam Jakarta sampai dengan terbentuknya Pancasila kita telah sepakat untuk memisahkan persoalan agama dengan persoalan negara.

Dualisme Hukum

Berlakunya Syariat Islam sebagai hukum positif disertai dengan berlakunya perundang-undangan negara, maka di NAD terdapat dua sistem hukum yang harus ditaati masyarakatnya. Yang jadi masalah adalah sistem hukum mana yang akan menjadi sumber hukum utama?.

Adolf Merkl dengan teori stufenbau des recht, memperlihatkan bahwa sistem hukum mempunyai struktur piramidal, mulai dari yang abstrak (ideologi negara dan Undang-undang Dasar) sampai yang konkret (peraturan-peraturan yang berlaku). Teori tersebut berpendapat bahwa sistem hukum adalah suatu hirarkis dari hukum dimana suatu ketentuan hukum tertentu bersumber pada kekuatan hukum lainnya yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan Syariat Islam apakah ia merupakan peraturan yang bersumber dari peraturan lain yang lebih tinggi atau ia merupakan sistem hukum yang sama sekali baru dan merupakan sebuah sumber hukum. Melihat isi dari Syariat Islam sangat berbeda dengan pancasila dan UUD 1945, menunjukkan bahwa Syariat Islam merupakan sumber hukum baru, maka telah terjadi dualisme hukum.

Agama dan Hukum

Dalam setiap ajaran agama terdapat norma-norma tentang cara orang-orang untuk mengatur kehidupan bersama, baik norma-norma moral maupun norma-norma kesusilaan. Walaupun setiap agama memberikan inspirasi bagi suatu kehidupan politik dan hukum yang baik, tetapi terdapat perbedaan pandangan dalam setiap agama tentang berlakunya norma-norma tertentu, dengan adanya perbedaan itu maka menjadi jelas bahwa tidak seluruh ajaran moral agama dapat menjadi azas hukum yang universal.

Frederick Carl Von Savigny berpendapat bahwa hukum terbentuk dari masyarakat yang terlepas dari unsur-unsur formalistik, hukum bersumber dari jiwa manusia (volkgeist) yang ditentukan oleh sejarah manusia. Hukum berkembang dari suatu masyarakat yang sederhana yang pencerminannya tampak dalam tingkah laku semua individu menuju kepada masyarakat yang modern dan kompleks. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa agama dan hukum tidak memiliki suatu ikatan yang berdasarkan logika saja. Ajaran hukum moral agama yang bersifat umum, tidak mencukupi untuk memecahkan segala problema moral masyarakat yang kompleks. Hukum itu merupakan suatu bidang tersendiri, mempunyai bobot sendiri, tidak tergantung, dan harus didekati secara rasional.

Syariat Islam yang berisikan unsur-unsur formalistik dan berkesan kaku tidak akan mampu menjawab seluruh persoalan masyarakat yang dinamis dan terus bertambah dan berkembang seiring kemajuan zaman. Syariat Islam hanya akan mampu menjawab outside skinnya saja, tidak akan mampu menjawab permasalahan masyarakat secara komprehensif.

Ronny Hanitijo Soemitro dalam kuliah sosiologi hukum di fakultas hukum UKSW mengatakan bahwa teori hukum terbagi dalam dua jenis yaitu teori internal hukum dan teori sosial tentang hukum. Teori internal menitik beratkan pada peraturan-peraturan, proses-proses, dan struktur-struktur yang terdapat dalam sistem hukum itu sendiri dengan tidak memperhatikan kekuatan lain diluarnya. Teori jenis kedua mencoba untuk menjelaskan tentang hukum ditinjau dari luar sistem hukum itu sendiri, dengan tidak membedakan apakah teori itu menitik beratkan pada kebudayaan, ekonomi, atau pengaruh sosial yang lain terhadap hukum. Dalam dua jenis teori tersebut Prof. Ronny tidak memberikan perhatian pada unsur-unsur agama.

Prof. Ronny menambahkan bahwa pada waktu yang lalu teori-teori hukum jenis yang lain pernah mempunyai arti yang penting, tetapi teori-teori tersebut sekarang sudah tidak digunakan lagi. Seperti teori hukum alam yang merupakan teori terkemuka pada abad kesembilan belas, alasan-alasan kemanusiaan yang tertanam pada alam atau kepada Tuhan merupakan sumber dari hukum alam.

Dari pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa teori internal merupakan kepanjangan tangan dari aliran hukum positif yang dipelopori oleh John Austin dengan Analitical Jurisprudence dan Hans Kelsen dengan Reine Rechtslehre. Sedangkan teori sosial tentang hukum lebih banyak diilhami Von Savigny. Kedua jenis teori tersebut tidak memberikan perhatian pada agama. John Austin mengatakan bahwa agama lebih merupakan suatu moral hidup daripada hukum dalam arti sejati, sama halnya dengan Hans Kelsen yang memisahkan hukum dari segala anasir-anasir baik agama, psikologi, sosiologi, sejarah, politik bahkan etik (hukum murni). Seperti telah dikatakan sebelumnya, Von Savigny dalam mendefinisikan hukum juga tidak memberikan perhatian pada unsur-unsur agama.

Dari beberapa pengertian diatas tampak jelas ada pemisahan antara agama disatu pihak dan hukum dilain pihak. Hukum berbeda dengan agama, hukum harus didekati secara rasional, bersumber dari masyarakat, dan disesuaikan dengan kondisi zaman. Sedangkan agama berisikan hal-hal yang formalistik, bersumber dari Tuhan, dan tidak akan berubah atau tetap. Dengan demikian agama lebih tepat diposisikan sebagai pedoman moral manusia untuk menemukan norma-norma hidup yang tetap dan benar, korelasinya dengan hukum adalah sebagai azas bagi pembentukkan hukum yang pada cita-citanya yaitu untuk mewujudkan keadilan dalam masyarakat.

Hukum Islam Dan Syariat

Dalam kajian Ushul Fiqih yang dimaksud hukum Islam adalah seperangkat aturan yang ditetapkan secara langsung dan tegas oleh Tuhan yang bersumber dari wahyu dan ditetapkan pokok-pokoknya untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Ajaran Islam yang terdapat dalam Ushul Fiqih dikenal dengan istilah dalil yang terdiri dari dua yaitu bersifat qathâ?Ti dan Zhanni. Oleh karena itu hukum Islam pun ada dua macam. Pertama, qathâ?Ti yaitu hukum Islam yang ditetapkan langsung oleh Tuhan. Hukum ini jumlahnya tidak banyak dan dalam perkembangannya dikenal dengan syariat. Kedua, Zhanni yaitu hukum yang ditetapkan pokok-pokoknya saja. Hukum jenis ini jumlahnya banyak dan dalam perkembangannya dikenal dengan fiqih.

Hukum Islam kategori syariat bersifat tsabat (konstan, tetap), artinya berlaku universal disepanjang zaman, tidak mengenal perubahan, dan tidak boleh disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi lah yang harus menyesuaikan diri dengan syariat. Sedangkan hukum Islam kategori fiqih bersifat murunah (fleksibel, elastis), tidak harus berlaku universal, mengenal perubahan, serta dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Syariat Islam merupakan bagian dari hukum Islam, Syariat Islam berisikan tuntutan moral yang memiliki kekhususan yaitu bersifat tetap dan tidak akan berubah seiring perkembangan zaman. Hal ini menunjukkan bahwa Syariat Islam berkarakter kaku, sehingga dalam perkembangan zaman, dimana selalu terjadi perubahan sosial dan struktur masyarakat, Syariat Islam tidak dapat mengakomodir perubahan-perubahan tersebut. Dapat dikatakan Syariat Islam tidak dapat menjadi pengendali sosial (social control) dalam masyarakat. Hal ini bertentangan dengan konsep Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat (law as a tool of social engineering).

Konsep Roscoe Pound tentang pembaharuan hukum, yang kemudian di Indonesia dikembangkan oleh Mochtar Kusumaatmadja mengatakan agar dalam pelaksanaan perundang-undangan yang bertujuan untuk pembaharuan itu dapat berjalan sebagaimana mestinya, hendaknya sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Jadi, mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Sebab jika ternyata tidak, akibatnya ketentuan tersebut akan tidak dapat dilaksanakan (bekerja) dan akan mendapat tantangan-tantangan.

Untuk menuangkan hukum Islam yang terdapat dalam Al-Quran baik yang bersifat Syariat ataupun Fiqih menjadi suatu bentuk perundang-undangan adalah perbuatan politik, karena itu tidak dapat dilepaskan dari persoalan politik. Yang menjadi pertanyaan adalah politik yang bagaimana yang dapat meyakinkan masyarakat, khususnya pembuat Undang-undang bahwa norma-norma dalam Al-Quran itu apabila dituangkan dalam bentuk Undang-undang atau peraturan perundang-undangan lainnya dapat memenuhi keadilan bagi setiap individu.

Syariat sebagai tuntutan moral juga harus didekati dengan pemikiran bahwa disatu pihak, moral hanya bisa dipahami melalui praktek politik. Melalui politik, moral menjadi efektif: melalui hukum, lembaga-lembaga negara, upaya-upaya dalam masalah kesejahteraan masyarakat. Tetapi, moral tetap tidak bisa direduksi ke dalam politik. Di lain pihak, politik mengakali moral. Sampai pada titik tertentu, politik hanya mempermainkan moral karena politik hanya menggunakan moral untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat.

Sekadar Penutup

Setelah melihat beberapa hal di atas jelaslah bagi kita bahwa peraturan-peraturan hukum tidak sama dengan tuntutan moral yang diajarkankan oleh agama. Perlu untuk dipahami bukan berarti peraturan hukum itu boleh bertentangan dengan agama, justeru agama berperan dalam proses pembentukan hukum itu sendiri. Tuntutan moral agama tidak dapat menjadi peraturan hukum, tetapi ia memiliki peran sebagai azas dalam pembentukan hukum.

Sebagai azas hukum, agama menjadi titik tolak bagi pembentukkan Undang-undang dan menjadi dasar interpretasi terhadap Undang-undang itu pula. Tetapi sebagai azas hukum, tidak berarti agama menjadi sumber hukum. Agama hanya berperan sebagai prinsip-prinsip dasar atau fundamen hukum.

Indonesia sebagai bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama, budaya dan bahasa yang berbeda-beda dan dengan berbagai macam perbedaan tersebut diperlukan toleransi yang tinggi pada setiap individu dan adanya penjaminan atas hak kebebasan bagi setiap individu. Sehingga pemberlakuan Syariat Islam sebagai hukum positif di negara yang majemuk bukanlah keputusan yang tepat.

Pembangunan hukum yang akan berlaku bagi semua warga negara Indonesia tanpa memandang agama yang dipeluknya, haruslah diberlakukan dengan hati-hati, untuk itu perlu ada wawasan dan kebijaksanaan yang jelas dari pemerintah. Pembentuk Undang-undang juga harus memiliki teknik hukum, maksudnya adalah para ahli hukum tersebut menguasai hukum positif secara rasional dan merumuskannya dalam Undang-undang sedemikian rupa sehingga tujuan yang dimaksud pembentuk Undang-undang dapat diungkapkan di dalamnya secara tepat dan jelas.

Sekadar penutup kita akhiri tulisan ini dengan apa yang dikatakan R. Von Jhering tentang egoisme nasional, yaitu: supaya suatu Undang-undang dibentuk secara tepat, pengolahan rasional dan sistematis tidak diadakan begitu saja, melainkan dengan memperhatikan bahwa Undang-undang itu harus sesuai dengan kebutuhan bangsa. Tata hukum Indonesia disusun demi bangsa Indonesia

Universalisme Hukum Dan Syariat Islam Di Indonesia

Pendahuluan

Masih segar diingatan kita tentang pro dan kontra berlakunya Syariat Islam di NAD, yang kemudian mulai merambat ke berbagai daerah. Hal semacam ini justeru muncul ditengah terjadinya konflik-konflik agama yang berkepanjangan serta bertumbuhnya kaum-kaum fundamentalis agama yang mulai meresahkan.

Dengan diterapkannya Syariat Islam di NAD, keâ?ouniversalâ?an hukum positif di Indonesia menjadi tanda tanya. Hal seperti ini merupakan hal yang baru, dimana ada sebuah daerah dalam suatu negara menerapkan sistem hukum yang berbeda dengan hukum nasionalnya. Penerapan tersebut terkesan seperti dipaksakan, disaat bangsa ini sedang membangun dan menata ulang sistem hukum nasionalnya, ada daerah yang justeru membuat sumber hukum baru yang sama sekali berbeda dengan sistem hukum induknya. Konsekwensinya adalah keinginan untuk menentukan suatu kawasan wilayah Islam dengan formalisasi syariat sebagai hukum positif adalah sebuah kontradiksi. Bagi kalangan umat Islam sendiri terdapat pro dan kontra dengan penerapan Syariat Islam di NAD. Bagaimana dengan nasib kaum sekuler Islam maupun non muslim di NAD? bagaimana pula nasib kemajemukan bangsa yang selama ini coba dipertahankan?.

Universalisme hukum bermakna bahwa seluruh peraturan dan perundang-undangan berlaku bagi seluruh warga negara tanpa memandang ras, suku, golongan, dan agama tertentu. Dan sebagai hukum positif bermakna peraturan dan perundangan tersebut berlaku pada waktu dan tempat yang sama. Dengan berlakunya Syariat Islam, secara langsung mencederai ke�universal�an tersebut.

Agama masih merupakan hal yang problematis di negara ini, dengan melihat potensi agama untuk mengangkat harkat manusia belum efektif dalam menentukan struktur-struktur hukum, sosial dan moral masyarakat, maka penerapan hukum yang bersumber dari agama tertentu di negara yang plural bukanlah suatu keputusan yang populer.

Kekuatan Syariat Islam sebagai hukum moral keagamaan bagi umat Islam sejauh ini dapat dikatakan berjalan dengan baik, tapi bagaimana kalau Syariat Islam tidak hanya sekadar hukum moral keagamaan tetapi menjadikannya sebagai hukum positif yang dibungkus dalam peraturan-peraturan daerah. Apalagi, isi dari peraturan daerah yang bernuansa syariat tersebut lebih menitik beratkan kepada persoalan-persoalan formalistik. Sejauh yang saya tahu Islam tidak hanya bicara soal jilbab, tidak hanya mengurus baca Al-Qur’an, atau hal-hal formal lainnya, Islam jauh lebih besar daripada hal-hal itu, Islam adalah agama yang berkarakteristikkan universal, dengan pandangan hidup mengenai persamaan, keadilan, kebebasan dan kehormatan serta memiliki konsep teosentrisme yang humanistik sebagai nilai inti dari seluruh ajaran Islam. Tetapi kebesarannya ditampikkan oleh perilaku politik pragmatis sebagian orang yang merasa kemenangan hanya dapat diukur oleh pemberlakuan Syariat Islam. Padahal sejak Piagam Jakarta sampai dengan terbentuknya Pancasila kita telah sepakat untuk memisahkan persoalan agama dengan persoalan negara.

Dualisme Hukum

Berlakunya Syariat Islam sebagai hukum positif disertai dengan berlakunya perundang-undangan negara, maka di NAD terdapat dua sistem hukum yang harus ditaati masyarakatnya. Yang jadi masalah adalah sistem hukum mana yang akan menjadi sumber hukum utama?.

Adolf Merkl dengan teori stufenbau des recht, memperlihatkan bahwa sistem hukum mempunyai struktur piramidal, mulai dari yang abstrak (ideologi negara dan Undang-undang Dasar) sampai yang konkret (peraturan-peraturan yang berlaku). Teori tersebut berpendapat bahwa sistem hukum adalah suatu hirarkis dari hukum dimana suatu ketentuan hukum tertentu bersumber pada kekuatan hukum lainnya yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan Syariat Islam apakah ia merupakan peraturan yang bersumber dari peraturan lain yang lebih tinggi atau ia merupakan sistem hukum yang sama sekali baru dan merupakan sebuah sumber hukum. Melihat isi dari Syariat Islam sangat berbeda dengan pancasila dan UUD 1945, menunjukkan bahwa Syariat Islam merupakan sumber hukum baru, maka telah terjadi dualisme hukum.

Agama dan Hukum

Dalam setiap ajaran agama terdapat norma-norma tentang cara orang-orang untuk mengatur kehidupan bersama, baik norma-norma moral maupun norma-norma kesusilaan. Walaupun setiap agama memberikan inspirasi bagi suatu kehidupan politik dan hukum yang baik, tetapi terdapat perbedaan pandangan dalam setiap agama tentang berlakunya norma-norma tertentu, dengan adanya perbedaan itu maka menjadi jelas bahwa tidak seluruh ajaran moral agama dapat menjadi azas hukum yang universal.

Frederick Carl Von Savigny berpendapat bahwa hukum terbentuk dari masyarakat yang terlepas dari unsur-unsur formalistik, hukum bersumber dari jiwa manusia (volkgeist) yang ditentukan oleh sejarah manusia. Hukum berkembang dari suatu masyarakat yang sederhana yang pencerminannya tampak dalam tingkah laku semua individu menuju kepada masyarakat yang modern dan kompleks. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa agama dan hukum tidak memiliki suatu ikatan yang berdasarkan logika saja. Ajaran hukum moral agama yang bersifat umum, tidak mencukupi untuk memecahkan segala problema moral masyarakat yang kompleks. Hukum itu merupakan suatu bidang tersendiri, mempunyai bobot sendiri, tidak tergantung, dan harus didekati secara rasional.

Syariat Islam yang berisikan unsur-unsur formalistik dan berkesan kaku tidak akan mampu menjawab seluruh persoalan masyarakat yang dinamis dan terus bertambah dan berkembang seiring kemajuan zaman. Syariat Islam hanya akan mampu menjawab outside skinnya saja, tidak akan mampu menjawab permasalahan masyarakat secara komprehensif.

Ronny Hanitijo Soemitro dalam kuliah sosiologi hukum di fakultas hukum UKSW mengatakan bahwa teori hukum terbagi dalam dua jenis yaitu teori internal hukum dan teori sosial tentang hukum. Teori internal menitik beratkan pada peraturan-peraturan, proses-proses, dan struktur-struktur yang terdapat dalam sistem hukum itu sendiri dengan tidak memperhatikan kekuatan lain diluarnya. Teori jenis kedua mencoba untuk menjelaskan tentang hukum ditinjau dari luar sistem hukum itu sendiri, dengan tidak membedakan apakah teori itu menitik beratkan pada kebudayaan, ekonomi, atau pengaruh sosial yang lain terhadap hukum. Dalam dua jenis teori tersebut Prof. Ronny tidak memberikan perhatian pada unsur-unsur agama.

Prof. Ronny menambahkan bahwa pada waktu yang lalu teori-teori hukum jenis yang lain pernah mempunyai arti yang penting, tetapi teori-teori tersebut sekarang sudah tidak digunakan lagi. Seperti teori hukum alam yang merupakan teori terkemuka pada abad kesembilan belas, alasan-alasan kemanusiaan yang tertanam pada alam atau kepada Tuhan merupakan sumber dari hukum alam.

Dari pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa teori internal merupakan kepanjangan tangan dari aliran hukum positif yang dipelopori oleh John Austin dengan Analitical Jurisprudence dan Hans Kelsen dengan Reine Rechtslehre. Sedangkan teori sosial tentang hukum lebih banyak diilhami Von Savigny. Kedua jenis teori tersebut tidak memberikan perhatian pada agama. John Austin mengatakan bahwa agama lebih merupakan suatu moral hidup daripada hukum dalam arti sejati, sama halnya dengan Hans Kelsen yang memisahkan hukum dari segala anasir-anasir baik agama, psikologi, sosiologi, sejarah, politik bahkan etik (hukum murni). Seperti telah dikatakan sebelumnya, Von Savigny dalam mendefinisikan hukum juga tidak memberikan perhatian pada unsur-unsur agama.

Dari beberapa pengertian diatas tampak jelas ada pemisahan antara agama disatu pihak dan hukum dilain pihak. Hukum berbeda dengan agama, hukum harus didekati secara rasional, bersumber dari masyarakat, dan disesuaikan dengan kondisi zaman. Sedangkan agama berisikan hal-hal yang formalistik, bersumber dari Tuhan, dan tidak akan berubah atau tetap. Dengan demikian agama lebih tepat diposisikan sebagai pedoman moral manusia untuk menemukan norma-norma hidup yang tetap dan benar, korelasinya dengan hukum adalah sebagai azas bagi pembentukkan hukum yang pada cita-citanya yaitu untuk mewujudkan keadilan dalam masyarakat.

Hukum Islam Dan Syariat

Dalam kajian Ushul Fiqih yang dimaksud hukum Islam adalah seperangkat aturan yang ditetapkan secara langsung dan tegas oleh Tuhan yang bersumber dari wahyu dan ditetapkan pokok-pokoknya untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Ajaran Islam yang terdapat dalam Ushul Fiqih dikenal dengan istilah dalil yang terdiri dari dua yaitu bersifat qathâ?Ti dan Zhanni. Oleh karena itu hukum Islam pun ada dua macam. Pertama, qathâ?Ti yaitu hukum Islam yang ditetapkan langsung oleh Tuhan. Hukum ini jumlahnya tidak banyak dan dalam perkembangannya dikenal dengan syariat. Kedua, Zhanni yaitu hukum yang ditetapkan pokok-pokoknya saja. Hukum jenis ini jumlahnya banyak dan dalam perkembangannya dikenal dengan fiqih.

Hukum Islam kategori syariat bersifat tsabat (konstan, tetap), artinya berlaku universal disepanjang zaman, tidak mengenal perubahan, dan tidak boleh disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi lah yang harus menyesuaikan diri dengan syariat. Sedangkan hukum Islam kategori fiqih bersifat murunah (fleksibel, elastis), tidak harus berlaku universal, mengenal perubahan, serta dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Syariat Islam merupakan bagian dari hukum Islam, Syariat Islam berisikan tuntutan moral yang memiliki kekhususan yaitu bersifat tetap dan tidak akan berubah seiring perkembangan zaman. Hal ini menunjukkan bahwa Syariat Islam berkarakter kaku, sehingga dalam perkembangan zaman, dimana selalu terjadi perubahan sosial dan struktur masyarakat, Syariat Islam tidak dapat mengakomodir perubahan-perubahan tersebut. Dapat dikatakan Syariat Islam tidak dapat menjadi pengendali sosial (social control) dalam masyarakat. Hal ini bertentangan dengan konsep Roscoe Pound yang mengatakan bahwa hukum harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat (law as a tool of social engineering).

Konsep Roscoe Pound tentang pembaharuan hukum, yang kemudian di Indonesia dikembangkan oleh Mochtar Kusumaatmadja mengatakan agar dalam pelaksanaan perundang-undangan yang bertujuan untuk pembaharuan itu dapat berjalan sebagaimana mestinya, hendaknya sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Jadi, mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Sebab jika ternyata tidak, akibatnya ketentuan tersebut akan tidak dapat dilaksanakan (bekerja) dan akan mendapat tantangan-tantangan.

Untuk menuangkan hukum Islam yang terdapat dalam Al-Quran baik yang bersifat Syariat ataupun Fiqih menjadi suatu bentuk perundang-undangan adalah perbuatan politik, karena itu tidak dapat dilepaskan dari persoalan politik. Yang menjadi pertanyaan adalah politik yang bagaimana yang dapat meyakinkan masyarakat, khususnya pembuat Undang-undang bahwa norma-norma dalam Al-Quran itu apabila dituangkan dalam bentuk Undang-undang atau peraturan perundang-undangan lainnya dapat memenuhi keadilan bagi setiap individu.

Syariat sebagai tuntutan moral juga harus didekati dengan pemikiran bahwa disatu pihak, moral hanya bisa dipahami melalui praktek politik. Melalui politik, moral menjadi efektif: melalui hukum, lembaga-lembaga negara, upaya-upaya dalam masalah kesejahteraan masyarakat. Tetapi, moral tetap tidak bisa direduksi ke dalam politik. Di lain pihak, politik mengakali moral. Sampai pada titik tertentu, politik hanya mempermainkan moral karena politik hanya menggunakan moral untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat.

Sekadar Penutup

Setelah melihat beberapa hal di atas jelaslah bagi kita bahwa peraturan-peraturan hukum tidak sama dengan tuntutan moral yang diajarkankan oleh agama. Perlu untuk dipahami bukan berarti peraturan hukum itu boleh bertentangan dengan agama, justeru agama berperan dalam proses pembentukan hukum itu sendiri. Tuntutan moral agama tidak dapat menjadi peraturan hukum, tetapi ia memiliki peran sebagai azas dalam pembentukan hukum.

Sebagai azas hukum, agama menjadi titik tolak bagi pembentukkan Undang-undang dan menjadi dasar interpretasi terhadap Undang-undang itu pula. Tetapi sebagai azas hukum, tidak berarti agama menjadi sumber hukum. Agama hanya berperan sebagai prinsip-prinsip dasar atau fundamen hukum.

Indonesia sebagai bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama, budaya dan bahasa yang berbeda-beda dan dengan berbagai macam perbedaan tersebut diperlukan toleransi yang tinggi pada setiap individu dan adanya penjaminan atas hak kebebasan bagi setiap individu. Sehingga pemberlakuan Syariat Islam sebagai hukum positif di negara yang majemuk bukanlah keputusan yang tepat.

Pembangunan hukum yang akan berlaku bagi semua warga negara Indonesia tanpa memandang agama yang dipeluknya, haruslah diberlakukan dengan hati-hati, untuk itu perlu ada wawasan dan kebijaksanaan yang jelas dari pemerintah. Pembentuk Undang-undang juga harus memiliki teknik hukum, maksudnya adalah para ahli hukum tersebut menguasai hukum positif secara rasional dan merumuskannya dalam Undang-undang sedemikian rupa sehingga tujuan yang dimaksud pembentuk Undang-undang dapat diungkapkan di dalamnya secara tepat dan jelas.

Sekadar penutup kita akhiri tulisan ini dengan apa yang dikatakan R. Von Jhering tentang egoisme nasional, yaitu: supaya suatu Undang-undang dibentuk secara tepat, pengolahan rasional dan sistematis tidak diadakan begitu saja, melainkan dengan memperhatikan bahwa Undang-undang itu harus sesuai dengan kebutuhan bangsa. Tata hukum Indonesia disusun demi bangsa Indonesia

Just another UNS Social Network ™ weblog